Rabu, 29 Juni 2011

ibu ku ngewe di atas kursi

sex di atas kursi
 petualang cinta ibu dengan Paman Ojek berakhir sudah. Tiga bulan tunggakan sudah dibayar lunas dengan menggadaikan harga dirinya. Pergi ke toko tak lagi antar paman ojek, demikian pulangnya juga tak diantar lagi bos toko. Tapi yang menjadi pertanyaanku, waktu itu, dari mana ibu dapat duit pakai beli motor baru? Setahun sudah berlalu, aku dan Heny naik kelas. Sekarang kelas dua SMP. Aku dan Heny tak satu ruangan lagi, Heny Klas IIa, sedangkan aku Klas IIb. Meski terpisah ruangan klas, kami tetap sahabat sejati. Pulang sekolah, seperti biasa aku selalu mampir kerumah Heny, dan pulang malam hari. Usiaku bertambah satu tahun, waktu duduk di semester pertama, Klas II SMP aku berusia 14 tahun. Sedangkan Heny masih muda dua bula dari aku. Seperti biasa kalau sudah hari Jumat, kami selalu pulang sekolah lebih awal dari biasanya. Heny kembali mengajak aku kerumahnya. ”Rahma, ketempat aku yu,” ucap Heny mengajak. ”Ya, tapi antarkan aku dulu kerumah ganti pakaian,” jawabku. ”Papah antarkan Rahma dulu kerumah ganti seragamnya. Habis itu kita langsung pulang kerumah,” pinta Heny kepada ayahnya. ”Ya, tapi kita ke-toko dulu beli kaos kaki buat ayah,” ucap ayah Heny. ”Oke ayah,” sahut Heny. ”Om belikan Rahma kaos kaki dong. Masa anak keduanya ngga dibeliin kaos kaki juga?” ucapku waktu itu. Sebenarnya guyon, tapi ditanggapi serius papah Heny. ”Oke, Heny kamu beli apa,” tanya ayahnya. ”Beli sneck aja, buat kami berdua Rahma dirumah nanti,” jawab Heny. Kami bertiga dari sekolah meluncur ketoko sepatu. Papah Heny mengambil kaos kaki motif garis hitam putih dua pasang. Sementara aku pilih kaos kaki warna ping, juga dua pasang. Satu motif kupu-kupu, yang satunya lagi motif bunga mawar merah yang baru merekah. Dari toko, mobil Escudo warna hitam metalik itu langsung membawa kami ke rumah, mengantarkan aku mengambil pakaian. Sampai didepan gang, aku menawarkan Heny dan papahnya main kerumah. Tapi hanya papahnya yang turun dari mobil dan lalu mengikutiku kerumah, sementara Heny milih tinggal didalam mobil, alasannya panas dan malas jalan jauh. Sampai dipintu rumah, papah Heny kembali menggoda aku. Sambil memegang tangan kananku, ia bilang. ”Rahma, kamu benar-benar cantik dan montok,” ucap papah Heny menggoda aku. Tapi aku diam dan langsung masuk kedalam rumah. Sementara papah Heny menunggu di luar rumah. Saat aku keluar, baru didepan pintu papah Heny mulai lagi menggoda aku. Dari depan rumah sampai hampir keluar gang, papah Heny tak henti-hentinya menggoda aku. Ia bilang aku cantik, imut, montok, dan seksi. Baru aku sadar, ternyata diam-diam papah Heny memperhatikan tubuhku yang berbalut ukensi. Sampai di mobil, papah Heny sekan membisu. Mungkin takut sama Heny kaliiii. Dari tempatku, kami langsung meluncur kerumah papah Heny. Kalau dulu waktu sama-sama satu ruang klas kami sering mengerjakan tugas sekolah bersama-sama, tapi sekarang sudah jarang lagi, paling-paling kalau ada tugas sekolah dari masing-masing guru kals kami diskusikan saling minta masukan. Banyak hal yang kami lakukan di rumah Heny, yang pasti nonton dan main Play Station (PS). Kalau ada komik yang baru, kami sama baca komik. Tak terasa waktu menunjukan pukul 20.30 Wib. ”Om antarkan Rahma pulang,” pintaku. Kunci mobil yang tersimpan diatas meja dekat TV langsung diraih papah Heny. ”Okeeee....tuan putri,” jawab papah Heny kembali menggoda aku. Saat itu Heny juga ikut mengantar aku pulang. Selama diperjalanan hanya aku dan Heny yang banyak bicara, sementara papah Heny hanya ikut tertawa, saat temanku Heny cerita yang lucu-lucu. Seperti biasa turun dari mobil harus melanjutkan kembali berjalan kaki menempuh 25 meter baru sampai dirumah. Tak ada yang aneh dirumah, ibu dengan santai nonton VCD. Aku langusng pergi kedapur cuci muka dan gosok gigi, kemudian masuk kamar lalu tidur. Sedangkan ibu masih nonton di ruang tamu depan. Esok paginya aku bangun, membersihkan tempat tidur lalu kemudian mandi dan seperti biasa pergi kesekolah. Masih dengan setianya Heny dan papahnya memjemput aku dari rumah. Pulang sekolah ngumpul kembali di rumah Heny. Tapi kali ini aku pulang lebih cepat lagi dari biasanya, kira-kira menjelang magrib. Tak lama kemudian, kira-kira berselang lima menit datang ibu mengendarai motor barunya. Hari sudah mulai gelap, datang suami pemilik toko kerumah kami. Kedatangan pemilik toko kerumah untuk kali pertamanya. ”Santi itu siapa” tanya peilik toko pada ibuku. ”Oh itu ponakan, kebetulan dia menemani aku tinggal disini,” ucap ibu. Mendengar pengakuan ibu, aku tunduk terdiam. Waktu itu ibu dan pemilik toko berdiri diteras rumah depan, sementara aku berada di kamar tamu depan. Pemilik toko itu tanya sambil melongok kedalam ruang depan dari balik pintu. Tak lama kemudian, mungkin kira-kira 10 menit, pemilik toko tersebut pamit pulang. Ibu masuk kerumah dan kemudian menutup pintu. ”Bu, tumben-tumben pemilik toko kerumah kita?” tanyaku waktu itu. ”Oh, bos ngatar BPKB Motor”. ”Memangnya motor itu punya siapa, kok lama benar ibu pakai motor itu baru dikasih BPKB-nya?” tanyaku kepda ibu. ”Ia ini dibeliin pemilik toko buat ibu, katanya kasihan sama ibu”. Terjawab sudah, dari mana duit ibu beli motor baru. Tetapi dalam hatiku kembali bertanya. ”Begitu baiknya pemilik toko sampai-sampai membeli ibu motor?” ucapku dalam hati. Tetapi aku tak mau berpikir negative thinking, semua aku anggap positif. Waktu menunjukan pukul 22.30 Wib, malam itu tidak ada acara nonton bersama, masing-masing masuk kamar dan lalu tidur. Hari itu ibu bangun lebih cepat dari aku. Saat aku bangun ibu sudah siap-siap berangkat ke toko. Melihat ibu sudah siap aku bergegas bangun dan kemudian mandi, lalu mengenakan pakaian sekolah. Walapun ibu sudah terlihat rapi, karena toko baru buka jam 08.00 Wib. Aku lebih dulu berangkat. Seperti biasa dijemput Heny dan papahnya. Pulang sekolah sudah pasti mampir dirumah Heny. Hari itu aku pulang larut malam sekitar pukul 22.00 Wib, karena harus menemani Heny dirumah karena papahnya keluar daerah. Begitu aku sampai didepan gang dan keluar mobil, aku melihat ada mobil Kijang terpakir dijalan besar didepan gang. Heny dan papahnya langsung pergi meninggalkan aku. Sambil berjalan menembusnya gelapnya malam itu, hatiku selalu bertanya, tak kusadari sampai juga didepan pintu rumah, dan kemudian membuka pintu. ”Allahma..... ternyata ibu sedang bergoyang diatas sopa, bersama pemilik toko!!!”. Tak aku sadari tubuhku lunglay terhempas di lantai teras rumah. Saat aku sadar sudah diatas kasur. Begitu aku bangun pemilik toko sudah tak ada lagi dirumah kami. Lantas ibu minta maaf padaku, ibu bilang semua terpaksa karena keadaan. Tapi aku diam membisu, tak ada sepatah katapun aku ucapkan dimalam itu. Ku pandang wajah ibu, ibu menundukkan kepalanya, meneteskan air matanya sambil berkata. ”Maafkan ibu Rahma. Taka ada lagi yang bisa ibu perbuat untuk menyambung hidup kita. Untuk kebutuhan kamu sekolah, yang semakin hari biaya semakin besar,” ucap ibu mengeluh, sambil menangis tersendu-sendu. Hatiku luluh mendengar pengakuan ibu, ternya begitu besar pengorbanannya bagi keluarga setelah ditinggal mati ayah. Ibu lantas bekata kepadaku. ”Rahma biarkan ibu menanggung semua derita ini. Ibu rela melakukan semuanya hanya untuk kamu. Kelak ibu berharap kamu harus jadi orang sukses,” pesan ibu kepadaku. Sejak saat itu aku bertekat, apapun caranya aku harus keluar dari belengku kemiskinan. Kalaupun aku jadi pelacur sekalipun, aku harus sukses. Hanya satu tekatku, tak akan pernah aku makan dari hasil mengemis apalagi hasil mencuri. Lebih baik jadi pelacur dari pada jadi pencuri, apalagi mencuri uang rakyat. ”Rasanya lebih terhormat melacur dari pada mencuri, apalagi menjadi koruptor,” ucapku meneguhkan semangat berjuang untuk mencapai sukses. Apa yang ibu rasakan sebenarnya bisa aku rasakan juga, betapa beratnya penderitaan yang ibu tanggung setelah ayah tiada. Malam berganti pagi. Ibu dan aku malam itu hanya duduk termenung, merenung nasib

0 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com